Headlines News :
Home » » Contoh Kasus Malpraktek Psikologi Indonesia ( Psikotes)

Contoh Kasus Malpraktek Psikologi Indonesia ( Psikotes)

Written By bambang Supriadi on Friday, 15 July 2011 | 15:24

maaf yaa... bukannya bermaksud promosi psikolog, tapi info nakita ini benar adanya. mohon disimak

AWAS, MALPRAKTIK PSIKOTES!

Psikotes harus dilakukan oleh orang yang paham betul tentang masalah psikologi.
Belakangan disinyalir ada oknum yang bukan berlatar belakang pendidikan psikologi menawarkan jasa mengadakan tes ke sejumlah sekolah, terutama TK. Ada yang hanya mengetes coretan anak dan dalam waktu sekejap, sekitar 5 menit, sudah dapat menginterpretasikan sifat, perilaku, tingkat emosi, maupun tingkat kecerdasan anak. Bahkan di salah satu TK di Jakarta, ada pula yang melakukan tes kecerdasan hanya dengan bertitik tolak pada kemampuan anak menebalkan titik-titik menjadi bentuk tertentu. Berdasarkan tes tersebut konon dapat diketahui seberapa tinggi tingkat kecerdasannya.Sungguh kejadian-kejadian semacam itu merupakan sesuatu yang sulit dipercaya, bahkan bisa dikategorikan malpraktik! Bayangkan, tes yang sedemikian sederhana dan dilakukan oleh orang yang tidak berkompeten namun mampu mengorek berbagai kondisi dan kemampuan anak yang sangat kompleks! Bila tes tersebut hanya digunakan untuk mengetahui perkembangan motorik halus dan koordinasi visual-motorik anak, boleh jadi memang bisa mewakili.


HANYA YANG BERKOMPETEN
Lalu siapa sih yang sebenarnya berkompeten melakukan psikotes? Yang berkompeten melakukannya adalah para psikolog, yaitu sarjana psikologi (S1) yang sudah mengikuti pendidikan lanjutan di program Magister Profesi Psikolog selama dua tahun. Jadi, lama pendidikan untuk menjadi seorang psikolog adalah 6 tahun. Selama dua tahun terakhir para calon psikolog mendapat pendidikan khusus untuk mengasah kemampuan mereka menjadi seorang psikolog. Mereka dididik untuk memperdalam pengetahuan serta keterampilan (skill) dalam menangani kasus-kasus sesuai dengan bidang kemagisteran yang ditempuh. Mereka pun memperdalam berbagai teori yang sesuai dengan bidang kekhususan yang ditempuh.Untuk Magister Profesi ada 4 bidang kekhususan, yakni Klinis Anak, Klinis Dewasa, Industri dan Organisasi, serta Psikologi Pendidikan.

BUTUH PENGALAMAN PSIKOTES
Tentu saja tes psikologi harus dilakukan oleh ahli yang berkompeten. Tes psikologi (tes kecerdasan, tes projeksi) dirancang oleh para ahli (penemunya) berdasarkan penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun dan teruji keabsahannya. Alat ukurnya bisa berupa tes untuk mengetahui tingkat kecerdasan, gambaran kepribadian seseorang, atau tes khusus untuk mengidentifikasi adanya gangguan-gangguan tertentu.Untuk dapat menggunakan dan menginterpretasikan hasil tes psikologis, dibutuhkan pengalaman dan penguasaan yang sangat baik mengenai tes tersebut. Hal ini tidak dicapai dalam waktu sekejap. Mereka dilatih selama dua tahun untuk mempelajari dan menerapkannya pada kasus-kasus yang mereka tangani. Sebagai contoh, seorang calon psikolog anak mendapat pembekalan dari kuliah-kuliah mengenai berbagai tes kecerdasan yang berlaku, kapan tes A digunakan dan kapan tidak. Bagaimana menggunakan (mengadministrasikan) alat tes dengan baik dan benar, bagaimana melakukan penyekoran, dan yang paling penting adalah bagaimana menginterpretasikan hasil tes.Interpretasi ini tidak semata-mata dengan melihat skor (nilai) secara kuantitatif, tapi harus pula meninjau apa arti dari nilai-nilai tersebut secara kualitatif. Hal ini diperoleh melalui pengamatan yang cermat selama pengambilan tes. Caranya? Diamati bagaimana cara kerja anak, perhatiannya selama bekerja, mengapa seorang anak gagal dalam mengerjakan soal tertentu. Apakah karena dia sedang marah sehingga tidak mau bekerja sama, karena gugup, atau karena memang tidak tahu. Nah, para psikolog harus menguasai teori yang ada di balik tes tersebut dan hal ini dilatihkan melalui pendidikan dengan cara menangani kasus-kasus hidup (life cases) di bawah bimbingan para supervisi yang sudah berpengalaman.Pengetes pun harus memahami betul tes apa yang seharusnya digunakan sesuai kebutuhan. Untuk mengetahui kepribadian dan kemampuan anak, misalnya, tesnya bisa terdiri atas wawancara dengan orangtua, guru, anak dan orang­orang yang berperan dalam kehidupan anak, observasi, tes kecerdasan, tes khusus, dan tes kepribadian. Tetapi adakalanya tes kecerdasan dan tes khusus tidak dibutuhkan jika bukan ke sana fokusnya. Dengan memahami apa yang dibutuhkan, tes ini dapat menjawab dengan baik apa sebenarnya yang menjadi minat dan bakat anak, tingkat kecerdasan anak, bagaimana mengatasi hambatan belajar, kesulitan bergaul, dan sebagainya.

BUKAN PSIKOLOG TIDAK DIBENARKAN
Psikotes terutama tes kecerdasan dan tes kepribadian serta tes-tes khusus lainnya, hanya bisa dilakukan oleh para psikolog yang sudah terlatih dan memiliki izin praktik dari Himpunan Psikologi Indonesia. Ada tes inventory yang kadang kala bisa dilaksanakan oleh nonpsikolog, namun tetap saja penggunanya harus mendapat pelatihan khusus. Mereka ini tidak bisa secara sembarangan menggunakan alat tersebut karena landasan teori yang melatarbelakangi tes harus dikuasai dengan baik. Sedangkan sarjana psikologi, karena sudah mendapat pelajaran tentang administrasi tes, bisa menjadi asisten di bawah pengawasan seorang psikolog.Ironisnya, pada praktiknya masih saja ada biro konsultasi psikologi atau yang mengaku sebagai "biro konsultasi" yang melakukan psikotes bukan oleh psikolog qualified. Bila demikian dikhawatirkan terjadi kesalahan dalam administrasi dan interpretasi tes.

KEKELIRUAN YANG TERJADIAda banyak kekeliruan seputar psikotes yang sering terjadi dan luput dari perhatian kita. Berikut beberapa di antaranya:
* Guru BP menjalankan tes psikologis
Hampir setiap sekolah biasanya memiliki guru BP. Memang, guru BP tidak harus mempunyai latar belakang pendidikan dari Fakultas Psikologi. Boleh saja mereka tamatan dari Fakultas Ilmu Keguruan & Pendidikan jurusan Bimbingan dan Konseling. Selama tes yang mereka lakukan hanya berkaitan dengan pendidikan, sah-sah saja. Namun guru BP tidak berkompeten menjalankan tes psikologis. Ada baiknya psikotes dilakukan oleh psikolog luar bila sekolah tidak memiliki psikolog sendiri.
* Dilakukan berulang kali
Psikotes yang dilakukan sebagai prasyarat memasuki sekolah biasanya terdiri atas tes kecerdasan dan tes kepribadian. Tes ini sebaiknya tidak dilakukan sembarangan dan diulang-ulang. Tes baru dilakukan berulang kali bila anak tersebut diidentifikasi memiliki masalah sehingga perlu dipantau perkembangannya. Tes ini paling cepat dilakukan 6 atau 12 bulan setelah diberikan suatu intervensi.
* Dilakukan secara massal
Masih ada sekolah yang melakukan psikotes secara massal. Padahal psikotes di TK dan di SD (kelas 1­3) tidak dibenarkan untuk dilakukan secara massal. Hendaknya guru atau orangtua mempertanyakan pelaksanaan tes bila dilakukan secara massal bagi kelompok usia ini. Mengapa? Karena rentang perhatian mereka masih terbatas. Pemahaman mereka akan perintah pun masih terbatas, sehingga sulit dilakukan pengamatan bagaimana anak mengerjakan tes tersebut. Akibatnya, hasil yang diperoleh tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya. Tes massal yang dilakukan pada anak yang lebih besar pun perlu dilakukan secara hati-hati karena bisa saja anak gugup saat mengerjakan tes atau sedang tidak sehat sehingga hasil yang dicapai lebih rendah daripada kemampuan sesungguhnya. Kesempatan "menyontek" pekerjaan orang lain pun harus dijaga agar tidak timbul hal-hal yang tidak diinginkan
* Diberitahukan hasilnya
Ada kasus psikotes, yaitu memberitahukan hasil yang dicapai. Ini adalah tindakan yang keliru. Bila anak tahu hasilnya rendah, ia mungkin akan merasa rendah diri. Apalagi bila hasilnya dibagikan kepada anak-anak yang belum mengerti makna hasil tes. Sebaliknya, kalau hasilnya tinggi bisa saja muncul arogansi pada anak. Bukan tidak mungkin ia merasa dirinya sangat cerdas dan kemudian tidak mau belajar. Jadi, psikotes pada anak-anak sebaiknya tidak diberitahukan hasilnya.
***
sekedar tambahan, sepanjang yang saya pelajari, hasil psikotest anak bukan tidak boleh diberitahukan sama sekali, tapi tidak boleh diberitahukan pada anak. apalagi dengan angka-angkanya. hasil test boleh diberitahukan kepada ortu/guru, dengan catatan disertai keterangan deskriptif yang dapat dimengerti. plus penjelasan bahwa tes ini confidential, tidak perlu mengatakannya pada anak. Kalau perlu ortu tidak diberi angka nominal IQ yang dicapai anak, cukup penjelasan dan bagaimana meng-encourage anak supaya berkembang dengan baik. lagian, dah jaman begini maju, dah ditemukan Multiple intelligence, masih kekeh juga mau berkiblat pada IQ?
baidewei, kalau perlu psikolog untuk assessment anak, saya ada di sini lho..he..he..promosi juga akhirnya....(yn)


sumber : Disini
Share this post :

+ comments + 1 comments

27 November 2012 at 15:55

Bisakah menguggat Biro psikologi yang melakukan malpraktek ? bagaimana jalurnya ?
Thanks

Post a Comment

Terima Kasih atas kunjungan anda. Jika Anda COPAS Tolong cantumkan Link Sumber. Mohon gunakan kata-kata yang sopan dalam memberikan komentar.
Komentar SPAM, SARA dan sejenisnya tidak akan di tampilkan.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan berkomentar :)

 
Support : Jadwal Training 2015 | Informasi Training dan Seminar | Mas Template
Copyright © 2011. WWW.SINTANG.COM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger